Bhinneka: Wawancara Bersama Parisude

Coba perhatikan videonya. Ada berapa orang yang dari atas sampai bawah memakai pakaian tradisional?

Nostalgia adalah hal yang baik, apalagi kalau dipadukan dengan modernitas. Modernitas, dalam hal ini, akan saya kaitkan dengan aksesibilitas–menjangkau; gampang dinikmati. Kita bisa melihat nostalgia dalam musik dari dua sudut pandang: eksploitasi atau penyegaran kembali. Saya tidak ingin melihat yang pertama, apalagi karena yang kedua rasanya lebih kuat. Parisude, melalui album Trikaya Parisude, tidak menggunakan nostalgia–sering disebut sebagai musik etnik atau tradisional–sebagai blueprint dari musik mereka. Ada keberagaman di musik Parisude, bukan hanya pameran jukebox.  Pada akhirnya, Parisude mengenalkan musik tradisionalnya ke khalayak yang lebih banyak, terutama bagi generasi yang bisa mendrag lagu ke iPod dari iTunes semudah gunting kuku.

Saat kalian mengusung corak suara yang kelak akan mendefinisikan Parisude, apakah itu–selain, tentu saja, karena emang maunya gitu–karena genre tersebut secara relatif baru atau apakah ada pengalaman pribadi dari Yudhis atau Chittara yang erat kaitannya dengan instrumen tradisional?

Ada perasaan rindu dengan negeri sendiri ketika kami masih kuliah di Malaysia [di Lim Kok Wing University] bersama, sehingga setiap kami bermusik disana, kami mencoba untuk selalu memberikan kesan “Indonesia” di setiap lagu-lagu yang kami bawakan.

Musik tradisional–mari kita definisikan musik etno terlebih dahulu: musik yang menggunakan instrumen-instrumen tradisional seperti gamelan, tabla dan sebagainya–sepertinya tidak sering muncul ke permukaan di kancah musik Indonesia. Terkadang ada kesan kalau musik tradisional itu lebih menjurus ke arah…novelti. Apakah dengan mencampurinya dengan musik elektronik, kalian berusaha memperluas format dan audiens dari musik tradisional Indonesia? 

Pada awalnya kami banyak ter-influence dengan musik elektronik. Balutan2 suara digital terdengar “baru” pada saat itu, jadi kami mencoba explore. Kembali pada point rindu dengan negeri di pertanyaan sebelumnya, exploration tersebut membuat kami memadu elektronik dengan tradisional. Semua mengalir begitu saja, apa yang kami suka kami lakukan, bukan karena ingin memperluas audiens.

Ada alasan kenapa musik tradisional kurang populer di kalangan anak muda? Seperti halnya budaya Indonesia pada umumnya yang harus puas dengan sekedar ajakan dosen/guru semata?

Dalam bermusik, harus tertanam dan ada ketertarikan dari dalam diri sendiri. Penting sekali pendidikan tentang seni dan budaya yang ada di Indonesia untuk ditanamkan terutama kepada anak muda. Walaupun nantinya kita membawakan musik jenis lain, tetapi kita tidak kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia atau setidaknya berpengetahuan cukup mengenai budaya sendiri. Kalau kita disini sudah puas dengan mengandalkan dosen saja tidak akan cukup.

Bosankah kalian akan pertanyaan (seperti di atas) yang sepertinya selalu menonjolkan musik etno; musik tradisional? Saya membaca berbagai wawancara yang kerap kali membawa unsur ini ke pertanyaan. Apakah ada yang terlewatkan dari musik kalian selain unsur perpaduan modern/tradisional yang kental? 

Memang benar musik tradisional dan elektronik adalah akar dari terciptanya lagu-lagu Parisude hingga menjadi “image” kami secara tidak langsung, akan tetapi kami tidak terpaut dengan genre, dan tidak ingin membatasi karya-karya kami dengan genre. Kami juga memberikan kebebasan kepada para pendengar mau memberikan kesan seperti apa terhadap lagu-lagu yang kami ciptakan. Live di Tokove bersama SFTC ini cukup berbeda dengan kami biasanya. Pada awal terbentuk kami hanya berdua saja dengan format live P.A., semua suara digital yang sudah kami aransemen berasal dari laptop, lama kelamaan dalam prosesnya kami menambahkan pemain perkusi dan bass. Ini berlangsung dari 2009-2014. Hingga pada akhirnya sampai seperti sekarang.  Semua seperti terasa memulai kembali, menggantikan suara-suara digital dengan suara yang dimainkan oleh manusia, memberikan “nafas” di setiap nadanya. Kami berlatih kurang lebih seminggu sekali selama 6 bulan dengan format seperti ini. Bisa dibilang ini merupakan target yang ingin kami capai sebelum Chitarra melanjutkan kuliahnya september kemarin. Kami belum matang dan tentu saja tidak akan pernah matang. Kami masih ingin berkembang.

Sepulangnya Anda (Amanda) dari Los Angeles, apa rencana selanjutnya bagi Parisude?

Untuk sekarang kami sedang membuat materi baru, memang terasa lebih sulit karena biasanya kami selalu bertemu dan mengerjakannya bersama, ditambah dengan perbedaan waktu di Jakarta dengan L.A..

Submit a comment