Tujuh Belas Menit di Warkop: Wawancara Bersama Silampukau

Bagi para pelacur, sesama musisi, penjual miras, anak-anak yang bermain bola di lapangan pada jam 9 malam, Kharis dan Eki adalah sahabat. Sebut kerabat juga bisa. Intelektual? Mungkin. Pencerita? Tentu saja.

Saat Sounds from the Corner dipastikan akan merekam pertunjukan Silampukau di Kedai Tjikini pada Senin (8/6), hanya ada satu kata yang langsung terlintas di pikiran saya: Surabaya. Sebagai kota metropolitan yang sedang mengecap rimbunnya modernisasi, tentu seorang sahabatlah yang diperlukan. Untuk itulah Dosa, Kota, dan Kenangan, album pertama dari Silampukau, direkam. Sebuah lagu bisa menjadikan yang biasa terkesan wah, terutama karena audiens yang hendak dicapainya, tapi entah kenapa Silampukau menjaga narasi nya sederhana. Cabut lagu-lagunya dari instrumen dan vokal, dan album ini akan tetap terasa hangat.

 

 

Di Dosa, Kota, dan Kenangan, ada banyak sekali karakter yang dtulis. Dan semua narasi mengenai mereka terasa seperti datang langsung dari mulut mereka. Apakah kalian sengaja turun lapangan untuk mendengar cerita mereka secara langusng?

Kharis: Tidak dalam arti seresmi itu, cuman karena beberapa memang bersinggungan dengan kami. Jadinya kami tahu cerita-cerita itu. Jadi di Surabaya tuh kotanya…mungkin kamu udah tau, Stanley, kalo orang-orang di Surabaya itu cukup egaliter. Jadi kamu bahkan bisa cangkruk (cangkruk tuh nongkrong ya), nongkong di warung kopi random, bukan warung yang kayak gini [Kedai Tjikini] tentu saja, tapi warung yang di pinggiran itu, seseorang yang gak kamu kenal tiba-tiba akan cerita tentang seluruh sejarah masa lalunya ke kamu.

Kalau ada yang cerita itu, rasanya normal-normal saja?

Kharis: Mereka merasa itu…mungkin kayak gini: Kalo kamu misalkan ngasih satu rahasia ke orang, orang itu akan ngelempar rahasia yang sama. Dari situ mungkin mencairkan pembicaraan, karena merasa saling mengenal.

Kenapa kalian berdua tertarik menuliskan mereka sebagai karakter di lagu-lagu? Apa yang sangat menarik dari pribadi-pribadi mereka sehingga kalian merasa kalau cerita mereka layak diperdengarkan?

Kharis: Mereka adalah narasi kecil tentang Surabaya, Ki, yah….

Eki: Dan cukup menarik untuk diceritakan. Karena jarang diceritakan. Seperti kalau misalnya Dolly; yang banyak diceritakan dari sisi politisnya, tapi kalau kita dari sisi si pelanggannya.

Kharis: Isu tentang Dolly kan selalu tentang komoditasnya, pelacurnya, dagangannya. Padahal kamu tahu sendiri kalau pasar tuh supply and demand, ya kan?

Sama seperti narkoba.

Kharis: Ya benar [tertawa]

 Lirik di lagu “Sang Juragan” kebanyakan menggunakan kata aku, padahal kalian bukanlah penjual miras, apalagi kesusahan menjadi penjual miras. Mengapa sering menggunakan penanda ‘aku’ dalam lagu Silampukau?

Kharis: Hampir semua lagu di album ini adalah fiktif. Tentu saja, meskipun kami berangkat dari cerita seseorang atau cerita orang-orang komunal; kolektif. Jadi ‘aku’ di sini tuh ‘aku’ kolektif, kami berusaha untuk kayak gitu. Jadi bukan ‘aku’ yang personal, walaupun nanti tapi pasti juga ditarik dari ‘aku’ yang personal—karena yang bercerita secara musikal adalah satu narator; satu penyanyi.

Jadi kalian berdua merasakan bagaimana rasanya jadi mereka?

Kharis: Itu kan kenapa kita nulis ‘fiksi.’ Kamu bisa jadi apapun.

Eki: Kita berperan jadi mereka.

Kharis: Mungkin harus ketat dengan data…atau ngga juga gapapa: fantastis juga gapapa. Ditulis dengan sedikit dekat dengan realisme, jadinya ya…ya…terlalu banyak metafora ya hari-hari ini. Tapi ini kayak zaman 90an di Indonesia, sangat-sangat gelap; sangat-sangat metaforis karya-karyanya, entah itu puisi, entah itu lagu.

Waktu saya dengar album ini pertama kali, saya penasaran apakah lagu-lagu ini sengaja ditulis untuk mereka.

Kharis: Kami membayangkan menjadi mereka. Kami tidak menulis untuk mereka. Jadi kalau misalkan itu nanti mereka merasa juga…nah, abstrak toh? Kalau misalkan “Sang Juragan” kan gak hanya satu penjual minuman.

Lagu yang paling otobiografikal, menurut saya, adalah “Doa 1”. Karena kalian tidak berbicara sebagai karakter-karakter seperti pelacur atau pemain bola, karena di lagu itu kalian berbicara sebagai musisi. Benar “Doa 1” lagu kalian yang paling otobiografikal di album ini?

Kharis: Sebetulnya kalo otobiografi ndak. Kalo boleh, yang paling otobiografi tuh ya si “Balada Harian”. Pernah ngerasa kalo bangun pagi dengan alarm itu sangat, sangat menyiksa? Kalo “Doa 1” justru ke curhatan temen-temen, ya, Ki, ya. Gak curhatan sih.

Eki: Untuk rekaman mereka harus kerja dulu, untuk ngambil kuliah, kaya gitu-gitu. Dan akhirnya kuliahnya gak kelar. Banyak banget ceritanya kayak gitu.

Kharis: Dan gak cuman di Surabaya kan?

Surabaya sedang melalui banyak transformasi sejak di bawah kepemimpinan Ibu Risma. Walaupun masih banyak yang tersisa, tapi setidaknya menurut sudut pandang orang Jakarta seperti saya, Surabaya sudah berubah. Surabaya mana yang kalian tulis di Dosa, Kota dan Kenangan? Dulu atau sekarang?

Kharis: Bu Risma tuh politikus, kami musisi. Lain lingkupnya. Kami bahkan ndak berkomentar tentang politik, kami berkomentar tentang orang-orang. Jadi kalo boleh agak-agak sok-sokan presentasi, ini human-interest yang ada di album ini. Dan kami secara sengaja menghindari keberpihakan politik.

Jadi Surabaya di album ini itu Surabaya di semua periode. Bukan hanya yang sekarang?

Kharis: Iya.

Skenario yang kalian gambarkan di Dosa, Kota, dan Kenangan kebanyakan jauh dari kekayaan. Tanah lapang yang diganti gedung, misalnya. Bahkan di profil Twtiter “lagu-lagu sederhana untuk orang sederhana.” Sederhana, kata kuncinya. Mengapa karakter-karakter yang sederhana demikian yang perlu diperhatikan?

Kharis: Kekayaan mungkin harus didefinisikan dulu. Definisi kekayaan tuh gimana?

Mereka yang tidak senang, mungkin? Bukan sekedar di bawah garis kemiskinan, maksudnya.

Kharis: Kira-kira secara statistik—saya gak mungkin tahu datanya, ya kan—kalo misalkan di kota, lebih banyak orang berbahagia atau yang tidak berbahagia? Ini Indonesia. Bukan Swiss, yang tingkat kebahagiannya tinggi! Jadi kira-kira gimana?

Eki: Mungkin karena kita sering nongkrong di warkop. Jadi kita juga dengerin ceritanya seputar itu-itu aja.

Kharis: Andaikan kami biasanya di mall, mungkin kami akan cerita tentang…

Eki: Di Starbucks, mungkin ceritanya beda lagi.

Kharis: Tapi kayaknya permasalahannya sama kali ya, Ki.

Eki: Iya.

Kharis: Tagihan awal bulan. Kayaknya semua orang ditanya sama PLN.

Jadi orang kaya tidak akan dapat posisi di lagu Silampukau?

Kharis: Loh, dapat.

Sebagai antagonis?

Eki dan Kharis [bersamaan]: Ngga.

Kharis: Kami gak judgmental. Kami berusaha untuk tidak judgmental. Kalo dilihat dari “Bola Raya” dan sebagainya, itu sebetulnya bukan secara politis ngomongin antara gedung dan persepak—orang-orang; gedung vs. orang-orang. Cuman, peristiwa itu terjadi lho! Jadi kalo jam 11 malam gitu—mungkin kalian yang di Jakarta gak bisa membayangkan, ya—di beberapa jalan gitu, tiba-tiba anak-anak SD/SMP main bola. Kalo ada mobil, ya mereka minggir.

Kenapa mereka tidak main siang-siang saja?

Kharis: See? Banyak pertanyaan, kan? Berarti menarik, kan? Kira-kira gitu. Kamu juga pasti kalo ngeliat peristiwa kayak gitu, pasti bertanya-tanya kan: “Kenapa nih kira-kira kayak gini?”

Kalian merasakan hal ini sewaktu kecil?

Kharis: Ngga. Itu tadi, di album ini, ini bukan album yang personal. Bukan berarti kami harus mengalami seluruh kejadian.

Kayaknya bagi kota yang “kelewat kejam” dengan “pekerjaan yang menyita harapan,” Surabaya masih jauh dari sempurna.

Kharis: Ada ya kota yang sempurna? Gak ada kan? Kota yang sempurna tuh utopis kan? Atau ada dimana, Ki, kota yang sempurna, Ki?

Eki: Ada di janji-janji para calon walikota!

Kharis: Cuman itu aja, kan? Di realitas, gak ada kota yang sempurna. Tapi bukan berarti kami menjelek-jelekkan kota kami sendiri, ya. Jadi—aku gak tau rumahmu—tapi rumahmu sedikit bocor dan sebagainya; wastafel agak mampet. Kamu langsung tiba-tiba membenci rumahmu, ndak juga kan? Kamu akan lambat laun terbiasa. Atau sekedar menceritakan itu. Surabaya di sini [Dosa, Kota, dan Kenangan] tuh disebut berulang-ulang karena sekedar menjadi kota kelahiran kami. Bukan berarti cerita ini hanya terjadi di Surabaya. Cerita ini bisa terjadi dimanapun. Katakanlah Surabaya diganti dengan Timbuktu, misalnya. Realitas kami sehari-hari itu rumah kami.

Kan ada banyak kota-kota di dunia ini yang lebih bahagia daripada Surabaya.

Kharis: Banyak! Tapi kan banyakan yang tidak.

Dosa, Kota, dan Kenangan dibungkus dengan alunan musik yang, bagi saya setidaknya, mudah untuk didengar. Musik dari album ini memudahkan saya untuk mendengarkan kisah-kisah yang kalian ingin tulis. Itu tujuan kalian? Mana yang kalian kedepankan, narasi atau musik?

Kharis: Jadi gini, secara sadar kami memberi porsi yang sama. Antara musik dan lirik. Karena narasi disini tidak hanya dibangun lewat lirik, tapi juga lewat gitar dan sebagainya. Jadi kalo misalkan didengarkan bener-bener atau ditelaah, kami memainkan dinamika—itu juga kadang-kadang dinamika dalam musik. Kami sengaja untuk memperkuat naras—bukan memperkuat, tapi itu juga bagian dari narasi. Secara sadar, kami memperlakukan sama. Tapi kalo misalkan ternyata preferensi orang-orang lebih ke lirik, ya, gitu deh.

 Dosa, Kota, dan Kenangan diakhiri oleh lagu “Aku Duduk Menanti”. Apa yang kalian nantikan?

Kharis: Itu sebetulnya lagu tentang ajal. Waktu kamu tua, kamu bergantung pada belas kasihan keluargamu. Kamu duduk di kursi roda, apa yang kamu nantikan?

Ajal.

Kharis: Yah!

Eki: Iya, cuma duduk menanti.

Kharis: Iya, cuman duduk menanti, kan? Orang gak mungkin punya keberanian kayak Albert Camus. Waktu yang dia tulis di Sisyphus [The Myth of Sisyphus], harus bunuh diri atau tidak. Karena kan gak semua orang punya keberanian untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Cuman bisanya apa? Duduk menanti, ya kan?

1 Comment

  1. Bagaimana pewawacara tahu bahwa “menjadi” dan “untuk” dalam petikan di bawah ini harus dicetak miring?
    CONTOH: Kharis: Kami membayangkan “menjadi” mereka. Kami tidak menulis “untuk” mereka.

Submit a comment