Sakitnya Dokumentasi

Terkadang, untuk menulis sakit dan dokumentasi dalam satu kalimat memerlukan pertimbangan yang matang. Kalo ga suka, ngapain? Seni dokumentasi, bagi saya, merupakan minat dalam artian bahwa dari awal saya memutuskan untuk melakukannya secara reguler sampai sekarang saya menulis ini, saya masih melakukan dokumentasi selayaknya sebuah hobi.

Apakah hobi tersebut bisa mendadak melayang ke langit ke tujuh, saya belum berani bilang.

Saya ingin mengambil kesempatan untuk berbagi pengalaman dokumentasi saya di Sounds from the Corner. Setelah berlanglang buana tidak karuan untuk benar benar menyempurnakan teknik dan segala macamnya, rasanya pantas kalau saya membagi cerita saya ke dalam dua bagian: Before and After.

Before Sounds from the Corner; 2009

Circa 2009, jauh sebelum tim Sounds from the Corner terbentuk, saya membutuhkan perjuangan besar dalam membuat dokumentasi sendiri. Memperhatikan seluruh aspek dalam membuat dokumentasi seorang diri. Tidak hanya mengambil gambar, mulai dari segi suara, segi editing, sampai finalisasi hanya saya lakukan sendiri. Poin-poin tersebut akan saya urai sebagai berikut:

  1. Gambar

Susah untuk menentukan mana sudut pandang terbaik mengingat saya pada waktu itu hanya mengambil gambar dengan satu kamera. Mengambil keputusan apakah itu adalah angle yang benar dan cukup merepresentasikan kejadian perkara tanpa ada feedback dari orang lain benar-benar sulit.

  1. Suara

Di awal, saya hanya bergantung dengan suara yang tersimpan bersama dengan kamera yang digunakan. Alhasil, seringkali terjadi peak saat suara yang direkam sedang keras atau kasar. Belakangan akhirnya saya menggunakan portable audio recorder terpisah agar pada nantinya pun dapat saya edit sendiri dengan optimal. Seringkali saya menyambungkan salah satu portable recorder ke mixer FOH di event yang berlangsung, untuk mendapatkan suara vokal yang jernih.

  1. Editing

Cukup perlu sinkronisasi audio dengan video, titling dan grading ringan video.

  1. Finalisasi dan Unggah

Render video dan mengunggahnya di channel YouTube pribadi

Saya tentu belum merasa kalau teknik pengerjaan saya sudah sempurna. Anggap saja yang Anda bisa lihat di kanal Sounds from the Corner adalah proses pembelajaran bagi saya, karena memang iya: itu proses pembelajaran.

Kita beralih ke:

After Sounds from the Corner; 2012-sekarang

Saya mungkin bisa menjadikan ‘motivasi’ sebagai alasan mengapa nomor di daftar ini bertambah. ‘Motivasi’ adalah dengan kerelaan sepenuh hati membawa peralatan yang dibutuhkan ke TMII untuk episode kami dan White Shoes & the Couples Company. ‘Motivasi’ inilah yang merupakan alasan saya untuk belajar lebih. Mari kita lihat teknis teknis yang saya geluti sekarang:

  1. Koordinasi Gambar, Tata Lampu, dan Blocking
  • Harus memperhatikan pembagian angle dan gambar. Agar tidak bocor satu sama lain (apalagi 5 kamera lebih)
  • Mengatur tata lampu sendiri untuk rekaman session
  • Blocking player yang mempengaruhi kualitas stok gambar
  1. Koordinasi Suara
  • Untuk Sounds from the Corner, akhirnya kami memakai sound engineer sendiri, tak lupa mixer multitrack (Behringer x32) dan computer tools untuk merekam.
  • Tak lupa kami harus mengambil ambience suara saat rekaman, agar experience live dapat dirasakan.
  1. Editing (Audio dan Gambar)
  • Membagi dan menentukan pilihan angle dan gambar lebih sulit dari satu kamera saja. Mulai dari footage yang shaky dan “bocor”
  • Mixing dan mastering audio juga membutuhkan waktu yang cukup lama, demi mempertahankan kualitas video yang diunggah di kanal SFTC.
  1. Preview
  • Untuk memastikan kualitas video SFTC terjaga.
  • Kesalahan pada credits yang terlibat dalam pembuatan video agar tidak terlupa.
  • Dilakukan dalam 3 tahap:
    • Preview sebelum rendering biar bisa langsung dikoreksi
    • Preview setelah rendering low-res (kalau sempat, unggah low-res dulu supaya bisa di preview anak-anak yang lain)
    • Preview setelah rendering hi-res (kadang-kadang ada beberapa detail yang tidak kelihatan di preview low-res
    • Keterangan: ketiga tahap ini untuk pembuatan sesi jangka panjang.
  1. Finalisasi (Rendering)
  • Bagian tersulit sebenarnya karena saya harus memastikan video yang diunggah ke YouTube tidak turun kualitasnya.
  • Orang-orang biasanya render dengan format mp4, tapi menurut saya biasanya kontras dan warna lumayan turun.
  • Saya akhirnya pakai pengaturan wmv—7 megabyte bitrate—full HD karena turunnya warna masih bisa ditolerir juga ketajamannya.
  1. Delivery
  • Unggah
  • Paling-paling tantangan terberatnya adalah kecepatan internet di Indonesia yang baru sekarang-sekarang ini berkembang. Dulu, unggah satu video (dengan besar 1-2 gigabyte) bisa memakan waktu satu setengah hari. Sekarang, cukup 2-3 jam.

Sekali lagi, saya tidak akan menyangkal kalau dokumentasi video musik merupakan hal yang berat. Namun di balik semua itu, tentu ada kesenangan tersendiri yang saya dapat dari kesakitan tersebut. Firasat saya—dan saya benar-benar meyakini ini—daftar yang baru Anda baca akan terus, terus diperbaharui.

Submit a comment