Mempertanyakan Selera: Mendalami Musik Eksperimental

Jandek adalah seorang pemusik, tapi cukup sekedar dalam artian bahwa di depan mikrofon, jari-jemarinya bisa menggelitik gitar dan mulutnya bisa mengeluarkan suara. Bagi banyak orang, lelaki ini aneh: Selama tiga setengah dekade, Jandek tidak meninggalkan jejak sama sekali kecuali 70+ album yang dikeluarkan melalui label miliknya Cornwood Industries. Hingga kemunculan misteriusnya di Glasgow pada tahun 2004, Jandek lebih dikenal dengan olahan-olahan jejak, ketimbang musik. Jandek lebih menyerupai sebuah abstraksi ketimbang seorang saudara, anak maupun tetangga.

Pendekatan ini tentu secara umum akan diciutkan dan disodorkan ke dalam lingkaran pendekatan ‘nonkonvensional.’ Beberapa orang akan menyebutnya avant-garde—layaknya Philip Glass dan lagu 3’33” bagi mahasiswa tingkat satu di mata kuliah seni. Namun, bukankah musisi yang merilis albumnya tanpa ada fanfare dan model ekonomi yang jelas tetap bisa dibilang sebagai musisi? Amankah jika kita berpendapat kalau semua musisi bereksperimen; dari Jandek sampai musisi yang mengerahkan focus group, uji pasaran, dan milisi lainnya untuk mengambil alih airplay di radio?

Jandek adalah musisi eksperimental, dinilai dari posisi noneksisten-nya di Sang Industri dan juga dari musiknya. Ready for the House, Six and Six, Blue Corpse dan sebagainya dipenuhi lagu-lagu nirmelodi yang dimainkan di gitar/harmonika buta kunci secara berantakan. Pertama kali saya mendengar musik Jandek (dipandu oleh deskripsi di Wikipedia yang menyebut Jandek sebagai outsider musician), jujur saya takut. Tidak seram, namun menggetarkan. Vokal pria asal Amerika dengan nama asli (atau bisa saja bukan) Sterling Smith terkesan malas, mengundang, provokatif.

Rasa penasaran saya terhadap musik Jandek tidak berangkat dari single yang dikeluarkannya. Saya tidak giat mencari videonya di YouTube. Rasa penasaran saya berangkat dari artikel mengenai beberapa penampilan spontan dia di beberapa kesempatan. Dari situ, saya merambah ke pencarian gerilya akan wawancara langka yang Jandek berikan ke sebuah majalah musik asal Inggris The Wire pada tahun 2011, walau akhirnya saya tidak berhasil. Ada banyak rute yang saya ambil yang mengantar saya ke album Ready for the House—album yang dikeluarkannya pada tahun 1978. Pada intinya, musik Jandek bukanlah sesuatu yang membawa saya ke Jandek, namun justru cerita dibaliknya. Apakah itu langkah yang benar atau tidak, saya belum berani bilang.

 

Tidak perlu dipungkiri kalau musik bekerja secara serebral: ada bagian di otak yang menangkap alunan melodi dan memberi tanggapan dalam bentuk emosi. Emosi itupun sifatnya seperti senyawa; kimiawi. Dalam hal ini, musik Jandek dialasi oleh adanya preteks: Karena orang ini menarik, maka musiknya menarik. Tidak mudah mendengarkan musik Jandek, lebih mudah menjadikan ‘mendengarkan musik Jandek’ sebagai tantangan yang harus dipenuhi.

Pertanyaan pertama: Apakah ini langkah yang harus saya tempuh untuk mendengarkan musik eksperimental? Bukan menikmati, tapi sekedar mendengarkan saja. Saya semakin sadar kalau pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sepele; pertanyaan yang tidak usah dijawab asal tumpukan CD di depan meja bisa disikat secepatnya. ‘Eksperimental’ pun lebih mirip sebagai sebuah kategori yang menyudutkan, ketimbang merapihkan. Musik yang secara hakiki disebut post-hardcore, post-rock, minimalisme juga bisa masuk ke dalam ranah eksperimental—semuanya tergantung, bukan?

Tantangan yang sama juga dibungkus rapi oleh grup musik asal Amerika Slint melalui album seminalnya Spiderland. Dengan karakter repetisi gitar yang bernas dan lirik-lirik yang kalau tidak diucapkan; diteriakan, Spiderland adalah sebuah kesulitan. Tapi saya tidak pernah melepas lagu-lagu ‘Good Morning Captain’ atau ‘Breadcrumb Trail’ dari playlist; sering saya putar ketika hendak menghadiri kelas di fakultas sebelah. Konteks yang dibawa oleh Slint—bubar setelah rilis, film dokumenter berjudul ‘Breadcrumb Trail’—bukanlah sebuah alasan, tapi lebih seperti sebuah pelicin.

Pertanyaan kedua: Haruskah saya peduli? Bukankah kalau saya sudah yakin kalau saya menyukai suatu lagu, seberapa inaksesibel dan amburadul lagu itu, di situlah tanda titik dibubuhi? Butuh waktu cukup lama untuk menjawab pertanyaan itu secara definitif dengan tidak. Butuh waktu cukup lama untuk berhenti menjadikan musik sebagai sebuah tugas, dan mengatakan dengan lantang kalau musik adalah tugas. Butuh waktu cukup lama untuk tidak lagi menganggap musik bawah tanah sebagai sesuatu yang keren, terlepas dari isi dari musik itu sendiri. Ketika saya mendengarkan apapun yang Rully Shabara lakukan di dunia maya, saya bisa belajar menghargai musiknya tanpa harus berkeringat memikirkan ‘gue harus menyukainya. Beda nih soalnya.’

Album Merriweather Post Pavilion­ dari Animal Collective sudah bertengger (atau tertengger) di iPod saya selama lebih dari satu tahun—tapi di samping lagu ‘Brothersport,’ saya tidak peduli akan satu album itu. Tastemakers seperti banyak publikasi asal Amerika yang mendapuk album itu sebagai salah satu album terbaik dekade ini sudah tidak resonan lagi. Dulu jelas iya. Menulis kolom ini mengingatkan saya untuk menghapus album tersebut dari iPod saya karena pada dasarnya: alasan mengapa menyukai sebuah karya eksperimental bukanlah suatu yang perlu dipertanyakan adalah karena menyukai sesuatu bukanlah suatu yang perlu dipertanyakan.

Submit a comment