SFTC: Kemarin, Hari ini dan Esok

6 September 2012.
Berbekal kocek tipis dan ambisi tebal, SFTC merilis video pertamanya: session dengan solois muda Raisa. Kelahiran SFTC di hadapan khalayak bisa dibilang semi mengendap-endap: dipersenjatai murni oleh bantuan dari kawan-kawan dan relasi internal. Baik Raisa dan tim produksi bersedia dibayar dengan ucapan terima kasih dan kudapan seadanya. Saat itu, saya dan Dimas punya ekspektasi nol terhadap tanggapan orang banyak bagi apapun yang telah kami buat. Pasalnya, saat itu hampir tidak ada situs dari dalam negeri yang mengabdikan diri kepada dokumentasi musik Online dengan format audio visual.

Respon yang kami dulang dari session pertama saat itu berbanding lurus dengan ekspektasi. Orang-orang kebanyakan tidak mengerti: Apa sih Sounds from the CornerKok ngga ada di televisi? Ini konser? Kok ngga ada penonton? Video klip? Kok live sih audionya? Websitenya jualan apa sih?

Lalu kami merilis video-video berikutnya: Maliq N’ D’Essentials, Soulvibe, Seringai, NOAH dst. Orang-orang masih belum mengerti juga. Kami senang, karena kami merasa telah melakukan hal yang semestinya. Kebingungan menandakan keberadaan orisinalitas: minim repetisi dan imitasi.

Lucunya, 40 video, 17 ribu subscribers dan tiga tahun kemudian, masih ada saja yang meninggalkan komentar di laman YouTube kami: “Kok ngga ada di TV”. Pertanda baik, mungkin: Proses edukasi masih terus berlangsung–sekarang ataupun nanti.

Sejak Raisa, butuh sekitar satu tahun untuk membuat orang-orang mengerti, apa sebenarnya mau SFTC: Landasan SFTC adalah semangat mendokumentasi musik dengan kualitas baik. Yang mengompori saya dan Dimas [Dimas Wisnuwardhono, co-founder SFTC] saat itu adalah rasa jenuh akan musik arus utama dan minimnya eksposur terhadap musik yang pantas mendapat sorotan–di luar kesempatan mendapat slot di acara-acara TV pagi hari. Sampai hari ini, ambisi itu tidak berubah sedikit pun.

Walaupun dipupuk di dalam benak, sulit rasanya memikirkan SFTC sebagai raksasa; menjadi perusahaan atau korporasi yang berdigdaya. Banyak kawan bilang, harusnya SFTC bisa lebih “berduit”, “menghasilkan” atau “komersil”. Komentar mereka tidak 100% salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Hari ini, SFTC berjalan layaknya sebuah ungkapan bijak: tidak berlebihan, selalu berkecukupan.
Kami sangat beruntung dibantu oleh tim dan kawan-kawan yang setia dan bervisi yang selaras, sehingga SFTC bisa secara perlahan menjadi semakin terasah tajam.

Setelah tiga tahun, kami (akhirnya) sadar SFTC adalah sebuah proyek yang introvert: Tidak pernah mengayomi, kerjaannya hanya rilis, rilis dan rilis. Blog yang sedang Anda baca adalah upaya kami untuk melangkah menyambangi khalayak yang lebih luas dan akhirnya menggunakan kesempatan ini untuk bercerita. Kami tulis menggunakan Bahasa Indonesia, supaya lebih punya daya ledak dan tepat guna. Di dalam blog ini juga SFTC akan berbicara lebih mengenai dapur, tinjauan teknis dan ulasan musik alternatif. Kami ingin semua orang yang membaca juga ingin ikut mendokumentasikan musik lokal Indonesia, dan berpikir kritis.

Setelah tiga tahun, kami sangat senang karena kini SFTC punya “kawan-kawan seperjuangan” di Indonesia, alias proyek dokumentasi musik berbasis Online. Berikut beberapa proyek seru yang ada di Indonesia.

1. Music Everywhere

2. Klikklip

3. QUB TV

4. Digilive

Kami menyarankan Anda untuk berlangganan laman Youtube proyek-proyek keren di atas. Seperti yang kami katakan di situs SFTC: This is our way to give, inspire and pay respect. Terima kasih telah membaca postingan pertama blog SFTC, more goodness to come!

 

Submit a comment